Israel endorses the palestinian states for the first time

June 15, 2009 at 3:22 am (Islam)

palestine_flagWe think that its the important statement particularly for palestinian poples and we are the muslims and world community that disire the permanent peace in the ‘holy land” Middle East. Its the first time statement from Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu, that also first Israels higest leaders endorsement.

Obviously, its the stage that must needed support from whom loving peace in whole the world. As the muslim and in the name of humanity we must support and praying together for this moment. We think that if this occuring as soon as possible will be the historical moment in the century.

In addition, we should recognize that the role of U.S in the Middle East was very important and must be support all the part in these area. The changes of the US leadership from Bush Jr to Obama administration was proceed very smooth transformation, particularly in the Midlle East and world muslim. The commitement of Obama administration for changing the relations with muslim world was very important factor for this political configuration in the Middle East, particularly for the Israel-Arab relations.

The Obama emphasis to the establishment of the palestinian states was very important moment for changing this relation. As the one most important problems in the muslim world, the establishment of Palestinian states absolutely a key for the reconsiliation to US-muslim world relations. Its also make some changes in the Israel role in the Middle East due to the “special partner” US, was make changes in their foreign policy in the Middle East. However, the Israel-US special relations was smoothly normal in the circumstances.

Its also need the changes of the Palestinian peoples (HAMAS) percepsion toward Israel their neighbours candidate for forever time.

“I call on you, our Palestinian neighbors, and to the leadership of the Palestinian Authority: Let us begin peace negotiations immediately, without preconditions,” Netanyahu said.

Its the important stages for pave a way to peace agreement. HAMAS must recognize Israel and not attact each others as well as the exchanges of the prisoners, particularly HAMAS militants members and one of the main Israel want Gilad Shalit.

We hopefully that this peace agreement can be reality as soon as possible. And in the name God and humanity let’s support the peace arrangement in the Middle east. Wish the effort of all the stakeholders in the Middle East particularly US-Israel-Palestinian peoples could arrange this agreement immediately. God Bless Him. Walloohu’alam

By
Ali Maksum

References : http://news.yahoo.com/s/ap/20090615/ap_on_re_mi_ea/ml_israel_palestinians accessed 15 June 2009

Permalink Leave a Comment

Download Buku : Ilusi Negara Islam (the illusion of Islamic State)

May 22, 2009 at 7:16 am (Islam)

Assalaamu’alaikum

Kami posting kan Buku dan press release tentang penerbitan buku Ilusi Negara Islam.
Semoga Bermanfaat, khusunya yang mencintai tetap utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

JAKARTA, INDONESIA (16 Mei 2009)—Tiga tokoh besar Islam moderat
meluncurkan buku dan seri video untuk melestarikan tradisi dan budaya
bangsa Indonesia yang santun dan toleran berdasarkan nilai-nilai luhur
agama, serta mewujudkan dunia yang aman, damai, dan sejahtera. Program
ini juga bertujuan membantu dunia mengatasi krisis kesalahpahaman
tentang agama dan kesalahkaprahan pengamalannya yang mengancam
kedamaian di mana-mana.

Mantan Presiden Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bersama
mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Buya),
dan tokoh terkemuka Nahdlatul Ulama, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus),
bersama-sama mengajak dan berusaha mengilhami masyarakat dan para elit
untuk bersikap terbuka, rendah hati, dan terus belajar agar bisa
memahami agama secara spiritual dan mendalam. Karena dengan cara
demikian pemahaman agama kelompok garis keras yang dangkal dan sempit
tidak akan bisa menginfiltrasi dan menghasut bangsa Indonesia untuk
mengkhianati nilai-nilai luhur ajaran agama serta tradisi dan budaya
bangsanya.

“Saya tidak khawatir terhadap non-Muslim atau siapa pun selama
mereka terus belajar; yang saya khawatirkan adalah ketika seseorang
berhenti belajar dan menganggap kebenaran sudah ada di tangannya dan
kemudian menganggap yang lain salah. Sebab, sabda Nabi saw., ‘Orang
akan tetap baik-baik saja, tetap pandai selama mau belajar. Ketika
orang itu berhenti belajar karena sudah merasa pandai, mulailah dia
bodoh’,” (Gus Mus).

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi
salah satu medan pertarungan ideologi yang signifikan. Kelompok-
kelompok garis keras telah menggunakan simbol-simbol agama untuk
merekrut dukungan umat Islam. Dengan menggunakan bahasa yang sama
dengan umat Islam pada umumnya, mereka berusaha meraih dukungan atas
nama agama sebanyak-banyaknya. Padahal, makna yang mereka pahami jauh
berbeda dari makna yang lazim dipahami oleh umat Islam Indonesia.

Ketiga tokoh ini menegaskan pentingnya melestarikan Pancasila, UUD
1945, dan NKRI, serta nilai-nilai luhur agama yang menjiwai bangunan
bangsa dan negara Indonesia, yang kini dibayang-bayangi oleh
infiltrasi paham dan aksi-aksi gerakan transnasional yang meresahkan.
Demi tujuan ini, mereka menyerukan persatuan dan kerjasama semua
pihak dan lapisan masyarakat, karena kebenaran yang tidak
terorganisai bisa dikalahkan oleh kejahatan maupun kezhaliman yang
terorganisasi.

The Wahid Institute, Maarif Institute, dan Gerakan Bhinneka Tunggal Ika
bersama-sama menerbitkan buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan
Islam Transnasional di Indonesia, yang merupakan hasil penelitian
lapangan dan konsultasi selama lebih dari dua tahun. Penelitian
lapangan yang meliputi 24 kabupaten di 17 propinsi ini melibatkan tak
kurang dari 30 peneliti yang kebanyakan berasal dari jaringan UIN/IAIN.
Mereka telah melakukan wawancara mendalam terhadap 591 responden yang
berasal dari 58 kelompok dan organisasi yang berbeda.

Buku ini juga dilengkapi dengan hasil konsultasi dengan para ulama,
intelektual, aktivis ormas Islam, para pengusaha, praktisi pendidikan,
dan pejabat pemerintahan yang merasa prihatin dengan perkembangan
gerakan Islam transnasional di Indonesia. Penelitian lapangan dan
konsultasi dengan para tokoh ini berhasil mengungkap asal-usul,
ideologi, agenda, dana, sistem, dan jaringan gerakan Islam
transnasional dan kaki tangannya di Indonesia. Di samping rekomendasi
untuk menghadapi dan mengatasi gerakan garis keras, buku ini juga
menyajikan counter teologis atas klaim-klaim telogis mereka.

“Studi ini kami lakukan dan publikasikan untuk mengbangkitkan kesadaran
seluruh komponen bangsa, khususnya para elit dan media masa, tentang
bahaya ideologi dan paham garis keras yang dibawa ke Tanah Air oleh
gerakan transnasional Timur Tengah dan tumbuh seperti jamur di musim
hujan dalam era reformasi kita,” tulis KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Buku ini adalah salah satu buku yang bisa menggugah kesadaran kita,”
kata Prof. Dr. A. Syafii Maarif, yang juga merupakan salah seorang
narasumber dan penasehat seri televisi Lautan Wahyu.

Sedangkan seri video Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin
adalah hasil interview dengan para ulama dan intelektual dalam dan luar
negeri mengenai beberapa aspek ajaran Islam, terutama yang selama ini
telah dipahami dan dipraktikkan secara salah kaprah. Seri Lautan Wahyu
ini diharapkan bisa membuka pikiran dan hati serta memperluas wawasan
tentang ajaran Islam, agar tujuan utama Kanjeng Nabi Muhammad saw.
diutus, yakni sebagai wujud kasih-sayang Tuhan bagi seluruh makhluk
yang akhir-akhir ini seperti dibantah oleh aksi-aksi beberapa kelompok
umat Islam sendiri, bisa terwujud sebagaimana mestinya.

“Pesan al-Qur’an memang luar biasa, sebesar kesadaran manusia sendiri.
Kalau kesadaran manusianya barbarian, apalagi (al-Qur’an) hanya dibaca
untuk pembenaran berkelahi,” ungkap Moeslim Abdurrahman, maka Islam
tidak akan bisa menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Nya. Dan, “Setiap
dakwah yang bertentangan dengan prinsip-prinsip al-Qur’an (hikmah,
peringatan yang baik, perdebatan yang lebih baik), adalah dakwah yang
salah. Para ulama dan intelektual wajib mengingatkan pelaku dakwah yang
demikian, dan jika mereka menolak maka pemerintah wajib menangkap dan
menghukum mereka sesuai dengan aturan yang berlaku,” jelas Syeikh
al-Akbar al-Azhar, Dr. Muhammad Sayid Thanthawi, salah seorang
narasumber dan penasehat program Lautan Wahyu.

Buku dan seri TV/video ini menegaskan pentingnya melestarikan
nilai-nilai luhur agama, tradisi dan budaya bangsa yang santun serta
toleran, dan sekaligus menyajikan counter teologis atas idiom-idiom dan
term-term keagamaan yang selama ini sering digunakan oleh gerakan
extremis transnasional untuk merekrut simpati dan dukungan dari umat
Islam, seperti dakwah, amar ma‘rûf nahy munkar, Khilafah Islamiyah, dan
lain-lain. Secara khusus, dalam buku ini juga dilampirkan dokumen SKPP
Muhammadiyah No. 149/Kep/I.0/ B/2006 yang merupakan keputusan untuk
membela diri dari infiltrasi partai politik seperti PKS, dan Keputusan
Majlis Bahtsul Masa’il NU bahwa Khilafah Islamiyah maupun negara Islam
tidak mempunyai rujukan teologis baik di dalam al-Qur’an maupun hadits.
Dokumen-dokumen ini adalah peringatan tegas dan kuat bahwa gerakan
transnasional yang mengancam Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, serta
praktik dan tradisi keberagamaan bangsa Indonesia.

Usaha untuk mengatasai ancaman ini harus dilakukan secara damai dan
bertanggung jawab, khususnya melalui pendidikan dan pembinaan kebebasan
beragama dan berkeyakinan. Maka tanpa mengesampingkan pentingnya
pembangunan ekonomi, pengelolaan pendidikan dan aspek-aspek keagamaan
yang mengutamakan tradisi dan budaya bangsa Indonesia berdasarkan
nilai-nilai luhur agama, dalam jangka panjang merupakan hal yang sangat
penting bagi bangsa Indonesia.

Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di
Indonesia dalam bentuk e-book dapat diperoleh secara gratis melalui
www.bhinnekatunggal ika.org

IINI LINK NYA : http://www.bhinnekatunggalika.org/galeri.html

Permalink Leave a Comment

Washington pujuk Pyongyang

March 8, 2009 at 3:58 am (1)

SEOUL: Amerika Syarikat mahu mengadakan dialog dengan Korea Utara, kata wakil khas Washington ke Pyongyang semalam, di tengah kebimbangan negara komunis itu bersiap sedia menguji misil jarak jauh.

“Kami sudah berhubung. Kami mahu adakan dia-log,” kata Stephen Bosworth, dalam lawatan pertamanya ke Asia sejak dilantik oleh pentadbiran Presiden Barack Obama bulan lalu, sebaik tiba di lapangan terbang Incheon.

Beliau berkata demikian apabila ditanya rancangan Washington untuk berhubung dengan Korea Utara, ketika Pyongyang mengeluarkan beberapa ancaman semakin meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea.

Pyongyang mengumumkan ia bersedia melancarkan roket bagi apa yang digelarnya pelancaran satelit, tetapi dipercayai Washington ujian peluru berpandu jarak jauh yang secara teorinya boleh sampai ke Alaska. – AFP/AP

Sumber : Berita Harian, Ahad, 08 Mac 2009 | 11 Rabiulawal 1430

Permalink Leave a Comment

CIA tawar Gloria Estefan jadi perisik

March 8, 2009 at 3:57 am (1)

gloria-estefanFLORIDA: Penyanyi Gloria Estefan mendedahkan Agensi Perisikan Pusat (CIA) pernah cuba merekrut beliau sebagai pengintip kerana kebolehannya bertutur dalam banyak bahasa.

Estefan, 52, pernah bekerja sebagai penterjemah bagi Kastam Amerika Syarikat di lapangan terbang antarabangsa Miami ketika muda.

“Mereka sedar saya adalah seseorang yang boleh lepas sebagai orang biasa tanpa menimbulkan syak wasangka. Jadi, ejen CIA mendekati saya dan mahu saya menjalani latihan di ibu pejabat agensi itu di Atlanta,” kata bintang kelahiran Cuba itu.

Estefan, yang fasih berbahasa Inggeris, Sepanyol dan Perancis, enggan menerima tawaran itu kerana bapanya bekerja dengan kerajaan Cuba.

Bapanya, Jose Fajardo, pernah menjadi pengawal peribadi bagi Presiden Cuba, Fulgencio Batista, dan dipenjarakan di negara itu selepas ditahan dalam Pencerobohan Bay of Pigs Invasion pada 1961.

Fajardo kemudian melarikan diri ke Florida, mendapat kerakyatan dan kemudian tersenarai dalam tentera Amerika untuk berperang di Vietnam.

Estefan, yang menjual 90 juta album di seluruh dunia dengan lagu popular seperti Conga, Rhythm Is Gonna Get You dan Dr Beat, berkata ibunya meyakinkan beliau untuk menolak tawaran itu.

Dia kemudian menubuhkan kumpulan pop Latin, Miami Sound Machine, dengan pasangannya, Emilio Estefan.

Pemenang Grammy itu dan suaminya kini menguruskan rangkaian restoran Cuba di selatan Florida dan pasangan itu memiliki harta dianggarkan bernilai £300 juta (RM1.5 bilion).

Bagaimanapun, penyanyi yang popular pada 1980-an itu mengaku ia tawaran menarik. � Agensi

Sumber : Berita Harian, Ahad, 08 Mac 2009 | 11 Rabiulawal 1430

Permalink Leave a Comment

Ahmadinejad pula kena baling kasut

March 8, 2009 at 3:50 am (1)

TEHERAN: Pegawai Iran yang mengangkat wartawan Iraq, Muntazar al-Zaidi sebagai wira dan memuji tindakannya membaling kasut kepada bekas Presiden Amerika Syarikat, George W Bush sebagai tanda keberanian Islam kelu lidah minggu ini apabila Presiden Mahmoud Ahmadinejad pula berdepan keadaan sama.

Presiden Iran itu dibaling kasut ketika melawat bandar raya Urumiye di barat laut Iran minggu ini.

Beliau menjadi sasaran ketika muncul dari bumbung kereta yang boleh dibuka sambil melambai orang ramai dalam perjalanan memberikan ucapan di sebuah stadium.

Pengawal keselamatan gagal menemui individu bertanggungjawab atas kejadian itu.

Blogger pro-Ahmadinejad menyifatkan laporan itu khabar angin disebarkan pihak setia kepada keluarga diraja dan penentang revolusi. � Agensi

Sumber : Berita Harian Online, Ahad, 08 Mac 2009 | 11 Rabiulawal 1430

Permalink 1 Comment

Posisi Indonesia diantara Kebijakan Luar Negeri AS

March 4, 2009 at 3:19 am (1)

Kunjungan dua hari, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Rodham Clinton ke Indonesia menjadi bahan diskusi yang cukup menarik bagi berbagai kalangan. Minimal melihat sikap AS sendiri terhadap Indonesia yang hampir dua dekade terakhir cenderung berubah-ubah. Perubahan tersebut bahkan seringkali mengundang tanda tanya bagi kalangan dalam negeri tentang apa yang akan terjadi.

Hillary Clinton yang nota bene masih anak buah Mr Obama, seakan sudah menjadi tanda-tanda yang seakan di buat harap-harap cemas. Hal ini mungkin wajar, jika harapan ada disebabkan tidak lain adalah pribadi sosok Obama yang sempat sekolah di SDN 01 Menteng seperti diutarakan Hillary sebelum bertolak ke Asia. Kemudian, timbul rasa cemas disebabkan belum ada sesuatu yang signifikan dari hasil kunjungan itu walau jika dilihat sebatas kunjungan perdana. Namun, kesepakatan yang bernilai strategis minimal sudah ada sebagai tanda bahwa Indonesia memang strategis bagi AS.

Harap-harap cemas atas apa yang akan menjadi kebijakan AS untuk Asia umumnya dan Indonesia khususnya, bisa jadi kecemasan yang nyata. Sebab, jika melihat dua dekade pergantian Presiden AS, George Bush (1989-1993), Bill Clinton (1993-2001) dan Bush Jr (2001-2009), posisi Indonesia kurang begitu berarti dan seringkali justru lebih banyak terkena imbasnya.

Bush Senior, lebih banyak untuk menunjukkan kepada dunia bahwa AS lah pemenang Perang Dingin atas Uni Soviet. Dimulai dengan Perang Teluk dan pengiriman pasukan AS ke Somalia (justru banyak tentara AS tewas yang terkenal dengan peristiwa “Black Hawk Down”). Posisi Indonesia justru dilemma diantara Negara-negara Islam (tergabung dalam OKI) dimana kurang menunjukkan solidaritas, disaat Indonesia sebagai Negara Islam terbesar di dunia.

Ketika Bill Clinton naik menjadi Presiden, justru urusan dalam negeri kita mulai rancu. Dimulai dengan sorotan terhadap pelanggaran HAM, kebijakan sektor ekonomi dan keuangan, hingga soal demokrasi. Puncaknya sudah jelas pelanggaran serius HAM di Timor Timur (Timor Leste) berakhir dengan lepasnya propinsi ke-27 itu setelah referendum dengan di bawah pengawasan serta tekanan PBB dan Australia. Soal demokrasi sedah jelas, Presiden Suharto lengser pada Mei 1998 yang ketika itu sangat kuat sebagai pemimpin ASEAN bahkan Gerakan Non Blok (GNB). Demikian juga dengan ekonomi yang berakhir dengan krisis ekonomi dan moneter yang memaksa kita mengemis kepada IMF.

George Bush Jr, yang baru menjabat beberapa bulan langsung menggebrak dengan “perang melawan teroris” setelah serangan 11 September 2001 oleh kelompok teroris. Osama Bin Laden yang ber-agama Islam seakan menampar wajah Islam, hingga memaksa Negara-negara yang berpenduduk Islam serempak untuk menampik tudingan itu. Indonesia? Lagi-lagi harus segera tanggap atas kebijakan AS. Bahkan Presiden Megawati langsung berkunjung ke Washington, hanya berselang satu minggu dari serangan 11 September. Sebuah tindakan yang banyak kalangan menilainya tergesa-gesa. Dampaknya jelas, penangkapan demi penagkapan beberapa orang yang diduga teroris termasuk Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang sampai saat ini belum ada bukti yang jelas. Belum lagi pem-boman di berbagai kota-kota di Indonesia.

Obama? Sekali lagi masih menimbulkan rasa harap-harap cemas. Namun menarik untuk dilihat bahwa dua dekade terakhir setelah berakhirnya perang dingin (1989/1990), kebijakan AS cenderung unilateral alias satu pihak. Artinya AS yang menempatkan dirinya sebagai Negara paling kuat sampai saat ini, dalam kebijakan luar negerinya hanya bertujuan untuk mengukuhkan sebagai hegemoni tunggal.

Sehingga, dipilihnya China, Korea Selatan, Jepang dan Indonesia (walaupun dikunjungi pertama kali), adalah sebagai bagian untuk menjaga eksistensinya sebagai hegemoni saat ini. Walaupun krisis ekonomi global tengah melanda saat ini, namun AS masih sebagai kekuatan dunia yang sangat kuat. China, Korea Selatan dan Jepang mungkin mampu untuk mengimbangi secara diplomatik disebabakan kekuatan ekonomi dan militer yang cukup kuat, disamping ketiga Negara tersebut adalah sekutu utama AS.

Indonesia? Sebagai Negara demokrasi terbesar ke tiga, bahkan entah benar atau bercanda Hillary mengakui bahwa AS sebagai negara demokrasi juga perlu belajar banyak dari Indonesia (Jawa Pos, 21 Februari 2009). Sesuatu pernyataan yang cukup aneh, AS yang mengajarkan demokrasi harus belajar dengan Indonesia yang baru saja menjalankan demokrasi selama sepuluh tahun setelah reformasi bergulir, sangat jauh dari nilai-nilai demokrasi.

Apakah kunjungan Hillary sebagai awal yang baik atau justru kurang baik? Tentunya harapan dibebankan kepada para pemegang lebijakan luar negeri Indonesia. leboh khusus para calon kandidat Presiden 2009 untuk berfikir yang terbaik bagi memartabatkan Indonesia dikancah Internasional. Semoga ungkapan Hillary tersebut menjadi kenyataan. Wallohu a’lam

Oleh
Ali Maksum
School of Social Sciences, UMS Malaysia.

Permalink Leave a Comment

The changes of Indonesia-Malaysia relations and the implications toward regional stability

January 19, 2009 at 4:42 am (1)

We are still in memorized that in early 1960s, Indonesia has bit “Kofrontasi” one of the most populous phrase at the time. Undoubtly, the emerging of this word is cause of the Sukarno crush “ganyang Malaysia” toward Malaysia that developed Federation of Malaysia including Sabah and Sarawak under British authorized. Sukarno realized that the emergence of this federations is the part of “the new colonialism” that could threat Indonesia.

Coup 1965 is the dramatically moment that changed this situations. The kidnapped of six main general of Indonesian Army is the unforgettable history for Indonesian peoples. The emergence of General Suharto who is becoming Indonesia leader after Sukarno also the most important history. Observers also said that this moment is the victory of Indonesia Army whose rival or opposition of Sukarno.

Thus, after Suharto lead Indonesia, the relations of both country radically change. The differences of the leadership factor (idiosyncratic factor) between Suharto and Sukarno is one important factor in the changes of relations. Sukarno that deeply anti-capitalist and anti America, very difference with Suharto that anti communist and pro capitalist (pro America/west). Although, some scholars said that Sukarno were not communist but he would implementing what the call “sosialis ala Indonesia” or peoples said “marhainisme”. However, cause of the Sukarno environment fulfill by communist people such as Aidit, Nyoto, and Subandrio who is the main actor of Indonesia communists party (PKI/Partai Komunis Indonesia).

In the Malaysia domestic politic is also influence to the changes of relations, including the “serumpun” spirit so important. Tun Abdul Razak who is the first Malaysian Prime Minister is anti communist and pro west. UMNO (United Malays National Party) is the populous organizations that anti communist and the main support for the communist rebellion in Malaysia, however, until early 1970s.

All above moment is the historical pictures in the early Indonesia-Malaysia relations. The conflict that many western analyzed said that very dangerous and could be serious war finish by short, however not any clear agreement between both country.

Today, the anniversary of both relations would be 50 years above with complex problems and prospect. Both country also has make some significant value of the relations such as in economic, trade and military. The immigrant workers is one of the important problem that make relations of both country deeply “tension” (one of the phrase came from Indonesia Foreign Minister to mention the relations). Based upon the figure of Nor Azizan Idris (see Idris, Nor Azizan (2005), Hubungan Malaysia-Indonesia dan Isu Pendatang Tanpa Izin, dalam Politik dan Keselamatan, disunting oleh Zarina Othman dan Siti Daud, Penerbit UKM), who is Malaysia social scientist was make research said that above 80% Indonesia workers in Malaysia is illegal.

Including Ambalat case is also one main issue in the current relations. in this case, is cause of Malaysia would taking in Ambalat island to Malaysia map, however joint partner with Shell company to exploring oil in this site under Petronas company. Indonesia combining by press forces to it moment emerging the Indonesian nationalism especially in the border with Malaysia such as Sulawesi that made “sukarelawan” (volunteer) and emerging the word “ganyang Malaysia”.

Fortunately, leader of both Country Presiden Susilo Bambang Yudhoyono from Indonesia and PM Abdullah Badawi from Malaysia could take dialogue and diplomatic priority. Both leader also has make some meeting and conference to solving the problems especially to finish the current issue such as TKI (Indonesia workers) and border authority.

Finally, by this short analyze I could give some analyzing about the changes of the relations of Malaysia and Indonesia after all moment. Based upon my research as part of my masters research, the changes of the Indonesia-Malaysia relations post Suharto (1998-2008) as my research focus is cause of some factor. First, the break of the Cold War is the significant factor. The break of the Cold War were influence toward domestic politics of both country as well as leader (idiosyncratic) perception and interpretations and domestic group interpretations. The changes of domestic politics influence to the foreign policy that produced from leadership and domestic interpretations that would defend the national interest. Without changes of the international situations the changes of the Indonesia-Malaysia relations is possible to occur. Wallohu’alam.

Presented by;

Ali Maksum, Postgraduate Student of International relations Programme at School of Social Sciences, UMS Malaysia.
Bibliography :
1. Idris, Nor Azizan (2005), Hubungan Malaysia-Indonesia dan Isu Pendatang Tanpa Izin, dalam Politik dan Keselamatan, disunting oleh Zarina Othman dan Siti Daud, Penerbit UKM

2. Eby Hara, Abubakar (2008), Hubungan Indonesia dan Malaysia: dari Saudara Serumpun ke ‘Smart Partnership’?, seminar proceeding, Seminar Internasional Indonesia-Malaysia Up Date 2008, UGM Indonesia, 27-29 Mei 2008.

3. Yazid, Mohd Noor (2006), Indonesia-Malaysia political relations: the Idiosyncratic Factor in Foreign Policy Decision Making, Asian Profile Vol 34 No.5 (October 2006).

4. Waltz, Kenneth (1979), Theory of International Politics, Addison-Wesley Publishing Company. Inc.

Permalink 2 Comments

Krisis gas eropa timur dan masa depan keamanan internasional

January 19, 2009 at 3:12 am (1)

Krisis gas yang melanda eropa semakin hari semakin mengkhawatirkan. Krisis yang melibatkan Uni Eropa serta Rusia dan Ukraina sebagai pemasok utama gas ke Eropa semakin panas setelah Rusia bersi keras untuk menaikkan harga sebesar USD 450 (sekitar Rp 4,9 juta) per 1.000 meter kubik gas (Jawa Pos, Kamis, 15 Januari 2009). Sehingga pasokan menjadi tersendat bahkan terhenti.

Dalam soal gas, Uni Eropa yang mayoritas beranggotakan Negara-negara Eropa Barat sangat tergantung pasokannya dari Eropa Timur yang kebanyakan bekas anggota Uni Soviet termasuk Ukraina dan Rusia sebagai produsen utama.

Isu energi sebenarnya sudah lama ada dan selalu menimpulkan ketegangan di kawasan ini, termasuk isu perluasan anggota NATO hingga mencakup Negara-negara bekas Uni Soviet. Rusia sebagai Negara utama bekas Uni Soviet tentu tidak akan tinggal diam, walau dari segi pencapaian tingkat perekonomian masih belum memuaskan. Namun, perlu diingat bahwa militer Rusia sampai saat ini masih sangat kuat, termasuk persenjataan nuklirnya.

Ukraina yang terus-menerus berbeda prinsip dengan Rusia terus mengalami tekanan baik dari Uni Eropa maupun Rusia sebagai bekas sekutu. Hal ini mengakibatkan tidak adanya kecocokan antara Rusia-Ukraina-Uni Eropa. Sehingga perluasan Uni Eropa dan NATO yang menawarkan berbagai bantuan keuangan dan keamanan kelihatan menggiurkan bagi Negara-negara bekas Uni Soviet termasuk Polandia, Belarusia dan Ukraina yang saat ini terlilit utang.

masa depan keamaanan

Sejak berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin, Amerika mulai mengurangi jumlah personil militerya di Eropa yang ditempatkan di Jerman. Oleh sebab itu, kehadiran militer Amerika di kawasan ini yang waktu itu untuk mengimbangi blok timur sangat terasa dampaknya. Bahkan, satu per satu Negara blok Soviet tertarik menjadi anggota NATO yang dirasakan sangat mengancam keamanan Rusia.

Krisis gas eropa yang melibatkan Rusia dan Uni Eropa bisa jadi bumerang apabila tidak diatsasi segera. Sebab, gas sebagai sumber energi utama eropa yang bersuhu dingin, sangat diperlukan ditengah krisis energi yang tengah melanda dunia. Disamping itu, Rusia yang saat ini sedang mengalami pertumbuhan ekonomi pesat tentu semakin berani dengan barat yang tengah mulai kurang cocok dengan Amerika.

Jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin konflik-konflik militer akan bermunculan diakibatkan perasaan saling terancam dan mengancam kepentingan nasional masing-masing. Apalagi Amerika sebagai Negara terkuat saat ini, sedang lesu oleh badai krisis ekonomi dan dilemma kebijakan timur tengah (Iraq, Afganistan, Israel) yang terus-menerus mendapat kecaman dunia termasuk sekutunya Perancis, Jerman serta China.

John J. Mearsheimer, Profesor Ilmu Politik dari Universitas Chicago, dalam jurnal International Security No.1 Vol 15, Summer 1990, pernah meramalkan bahwa dengan ditariknya personel militer Amerika dari Eropa besar kemungkinan terjadi konflik horizontal kawasan. Terbukti setelah pasca itu konflik bersenjata terus-menerus terjadi, berturut-turt konflik bekas Yugoslavia (Kroasai,Bosnia-Herzegovina,Serbia), konflik bekas Uni Soviet (Azerbaijan, Armenia, Georgia, Moldova, Rusia sendiri dengan Chechnya) serta terbaru Ossetia Selatan (Georgia-Rusia) termasuk meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah (Israel-Negara Arab).

Krisis gas Eropa bisa jadi masih dalam tahap penjajakan masing-masing pihak. Namun bukan tidak mungkin hal ini akan berujung konflik militer jika masing-masing pihak sudah terjepit keadaan. Apalagi situasi dunia dalam keadaan anarchy (istilah dalam hubungan internasional yang bermakna; tidak ada yang memerintah dunia) sangat memungkinkan masing-masing bertindak sesuai kehendak dan tujuan. Wallohu a’lam.

Oleh Ali Maksum
Mahasiawa Pascasarjana, pada School of Social Sciences, UMS Malaysia.

Permalink Leave a Comment

Konflik Israel-Palestina : Ujian Pertama Presiden Obama

January 19, 2009 at 3:09 am (1)

Sudah lebih 400 jiwa menjadi korban konflik klasik seri terbaru Israel – Palestina di awal tahun baru 1430 Hijriah dan 2009 Masehi. Sebuah tragedy kemanusiaan yang memilukan sejak abad ke 20. Penyebabnya tidak lain adalah tindakan agresif Israel terhadap Palestina yang menyerang dengan membabi buta tanpa pandang bulu. Namun sejarah telah membuktikan betapa konflik itu sangat sulit untuk terselesaikan, bahkan banyak pengamat berpandangan sebagai sebuah ilusi yang sangat sulit terwujud.

Konflik Israel-Palestina seakan menjadi klasik disebabkan lamanya konflik itu tanpa penyelesaian dan berulang-ulang. Sampai saat inipun Israel yang telah setengah abad lebih menguasai palestina seakan tidak pernah nyenyak tidur karena takut di ganggu gerilyawan Palestina, demikian halnya dengan Palestina yang juga dihantui hujan bom dan kekejaman tentara Israel.

Konflik Israel menghadapi musuhnya Palestina ternyata sangat kontras jika dibandingkan dengan derap pembangunan di jazirah arab semisal Doha dan Dubai yang sampai saat ini kemegahannya di katakan akan menyamai New York di Amerika. Apalagi Saudi Arabia dan Negara lain Mesir, Jordania, Oman, Yaman dan ternyata mereka semua diam tak berkutik bagaikan keadaan seperti biasa (business as usual).

China dan sebagian Negara-negara eropa mulai melakukan kecaman atas serangan itu. Tak ketinggalan Indonesia, Malaysia juga melakukan hal serupa hingga mengirimkan bantuan obat-obat an dan berbagai keperluan makanan. Bahkan sebagian ormas semisal Front Pembela Islam (FPI) nekat mengirimkan sukarelawan untuk membantu perjuangan rakyat Palestina.

Apa yang sebenarnya terjadi di timur tengah khususnya terkait konflik Israel dan Palestina tampaknya harus dicermati secara bijak. Emosi adalah normal tanpa harus di ekspresikan dengan cara-cara anarkhis. Hal itu bisa jadi justru berakibat boomerang terutama secara factual Negara kita yang sedang membangun sangat membutuhkan stabilitas politik di dunia internasional.
Menunggu Sikap Amerika

Seperti kita ketahui bersama sampai saat ini Amerika belum melakukan tindakan apa-apa atas apa yang sedang berlangsung di Semenanjung Gaza. Walaupun AS-Israel selalu dekat dan bahu membahu setiap tindakan, tampaknya ketegasan sikap AS terhadap konflik Israel terbaru belum jelas. Padahal G W Bush selama ini dikenal selalu bertindak cepat atas konflik Israel.

Justru itulah yang menyebabkan tertundanya penyelesaikan konflik. Bush sebagai incumbent, bagaikan tak bertanduk dan nyaris tak ada kekuatan. Menjelang dilantiknya Presiden AS terpilih Barrack Hussein Obama tampaknya akan menjadi moment strategis bagi penyelesaian konflik tersebut dan penulis kira akan menjadi ujian pertama Obama sebagai Presiden terpilih.

Menurut hemat penulis, menunggu sikap tegas AS terutama sang Presiden adalah salah satu kemungkinan jawaban atas konflik itu. Artinya, Obama sebagai presiden terpilih dengan segala prestasi dan kelebihan seperti yang diutarakan pendukungnya akan di uji sejauh mana gambaran kebijakan timur tengahnya terutama Israel yang selama ini menjadi sekutu utama AS seperti yang dilakukan pendahulu Obama.

Konflik Israel-Palestina mungkin masih akan terus berlangsung sampai Presiden Obama berkomentar atas konflik itu. Dan komentar Obama adalah sebuah sikap yang ditunggu-tunggu dan akan menjadi cerminan kebijakan luar negerinya terumata timur tengah khususnya kepada Israel yang selama ini dikenal sebagai kawasan strategis (cadangan minyak) dan sering terjadi konflik.

Sikap Indonesia tampaknya cukup bijak dalam menanggapi konflik itu terutama dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan. Harapan kita tentunya semoga konflik kemanusiaan di timur tengah dapat segera terselesaikan dengan damai, walaupun nada pesimis masih saja terlontar. Wallohu a’lam.

Oleh
Ali Maksum
Mahasiswa Pascasarjana pada International Relations, School of Social Sciences
UMS Malaysia

Permalink Leave a Comment

Koalisi Dini : Solusi Pendewasaan Menuju Demokrasi

January 19, 2009 at 3:07 am (1)

Sepuluh tahun bergulirnya era reformasi tampaknya belum sepenuhnya menunjukkan tanda-tanda yang signifikan kearah kesejahteraan bangsa baik dalam kerangka ekonomi maupun politik. Tidak dapat dipungkiri, bahwa kerja keras seluruh elemen bangsa hingga saat ini masih menemui banyak kendala diakibatkan belum terpenuhinya beberapa persoalan asas yang merupakan arah dan cita-cita reformasi.

Reformasi yang menuntut perubahan terutama politik dan ekonomi setelah sekian lama dibawah rejim orde baru juga tidak dengan mudah dikendalikan dan diarahkan menuju paradigma baru. Kompleksitas ini diperparah dengan image pemerintah baru yang cenderung dibandingkan dengan era orde baru yang digambarkan lebih “baik”.

Hal ini terjadi diakibatkan, pola pikir sebagaian besar masyarakat kita yang masih belum siap untuk menerima tuntutan reformasi yaitu demokrasi. Artinya perubahan-perubahan yang diinginkan ternyata belum didukung oleh infrastruktur utamanya kapasitas masyarakat kita yang sebagian besar ternyata masih memerlukan paksaan dan belum siap untuk berdikari.

Politik uang dan menurunnya kesadaran politik adalah dua bukti yang tidak dapat dielak bagaimana masyarakat kita sangat mudah untuk terjebak dalam situasi dimana pilihan untuk memenuhi kebutuhan perut lebih dominan dari pada pilihan hati nurani.

Hal itu adalah wajar, sebab Indonesia yang masih dalam kategori developing country masih terkonsentasi kepada kebutuhan pokok. Sehingga sangat membutuhkan kelompok dominan untuk menstabilkan politiknya. Sebab, bagaimanapun juga kestabilan politik akan mempermudah untuk mengendalikan semua sektor termasuk ekomoni dan keamanan sebagai kebutuhan pokok rakyat saat ini.

Kelompok dominan yang dimaksud bukan berarti keinginan kembali ke sistem otoriter. Namun lebih kepada sebuah dominasi kekuasaan secara politik yang diharapkan bekerja secara maksimal. Artinya kelompok dominan inilah yang akan mengendalikan seluruh sistem kerja pemerintahan kita, yang terbentuk dari sebuah pemilu yang demokratis.

Pada jaman orde baru kita hanya mengenal dua partai politik (PPP, PDI) dan satu golongan (Golkar) yang merupakan partai dominan yang menguasai pemerintahan. Hal ini terbukti efektif mengendalikan pemerintahan walaupun disana sini masih banyak kekurangan. Namun minimal dari segi kesetabilan politik layak untuk mendapat apresiasi.

Demikian pula negara-negara yang sudah mapan demokrasinya semisal Amerika dan Malaysia sudah sangat jelas kubu yang akan bertarung dalam merebut pemerintahan. Sehingga rakyat akan sangat dengan mudah memilih dan memilah serta menilai mana yang dirasa susuai untuk memimpin Negara.

Amerika misalnya sudah terkotak dalam dua kubu yaitu Demokrat dan Republik. Sedang Malaysia sudah semakin meruncing dengan dua kubu yaitu Barisan Nasional yang merupakan gabungan UMNO-Melayu, MCA-China, MIC-India dan Pembangkang yang merupakan gabungan PAS-Islam, PKR-Nasionalis, DAP-Sosialis.

Munculnya berbagai partai yang maju dalam pemilu sejak 1999 hingga 2009 adalah sebuah sisi positif. Namun hal ini tidak bisa dibiarkan berlanjut, sebab pengalaman dua kali pemilu sudah memberikan pelajaran berharga bagaimana banyaknya partai itu menjadikan demokrasi menjadi kehilangan makna.

Hal ini juga seakan menjadikan demokrasi menjadi korban “penumpang gelap” demokrasi sendiri. Sebab demokrasi yang menuntut sebuah konsensus bersama untuk bekerja bersama dan menghargai serta saling mendukung atas dasar mufakat belum kita jumpai hingga saat ini.

Koalisi yang merupakan wujud konsensus itu justru sering kehilangan arah, dalam artian koalisi itu diartikan bukan untuk kerjasama namun lebih pada sama-sama kerja. Lebih ironis lagi koalisi tidak menghasilkan komitmen yang kuat untuk mendukung pemerintah secara total disebabkan koalisi itu terjadi justru setelah pemilu selesai.

Sehingga yang terjadi kekuasaan pemerintah yang seharusnya berhak untuk mengatur pemerintahan menjadi terkendala disebabkan komposisi dukungan yang berubah-ubah.

Artinya sejak awal tidak terbangun komitmen kuat antar partai peserta pemilu untuk membentuk pemerintahan yang solid. Seluruh partai lebih mementingkan ego partai untuk meraih suara dibandingkan membangun pemerintahan yang kuat walaupun partai tersebut kurang berpotensi meraih suara.

Alangkah bijaknya jika seluruh partai mulai berpikir jernih dan menghilangkan ego pribadi untuk membentuk pemerintahan yang kuat. Sebab koalisi sebelum pemilu akan sangat signifikan bagi proses pemilu sendiri. Disamping mempermudah masyarakat untuk menilai, konsensus itu sendiri akan menghemat banyak hal termasuk energy, sebab partai yang sudah berkoalisi lebih mudah untuk mengarahkan dukunga.

Sehingga pemerintahan yang kuat sangat mungkin untuk terbentuk, disebabkan dukungan yang kuat partai koalisi serta kepercayaan penuh masyarakat. Sedangkan mekanisme kearah terbentuknya koalisi itu, menurut hemat penulis sebenarnya sudah menjadi keahlian masing-masing politisi di partai politik. Wallohu’alam.
Oleh
Ali Maksum
Mahasiswa Pascasarjana dan peneliti pada School of Social Sciences, UMS Malaysia

Permalink Leave a Comment

Next page »